Archive for the ‘Urek-urek’ Category

Yusuf Agency (memporak-porandakan bookfair)

Friday, February 20th, 2009

Stan (apa Stand ya?) Yusuf Agency (Y.A.) selalu tidak pernah ketinggalan dalam memeriahkan pameran buku (bookfair) di yogyakarta, gimana tidak memeriahkan, lha wong setiap ada pameran buku, stan YA yang paling heboh -saking hebohnya, malah ada pengunjung yang masuk gedung pameran langsung menuju stan YA yang biasanya berada di paling pojok-. Jangan melihat bagaimana cara menyuguhkan jualannya yang porak poranda -pada awalnya tersusun rapi, tapi karena adrenalin pengunjung yang sangat berlebihan jadi porak pornada deh-, tapi lihatlah dari harga buku yang ditawarkan. YA menaksir harga dari keadaan fisik buku, biasanya buku dihargai dengan kelipatan 5 ribu, yakni 5rb, 10rb, 20rb, dst, tergantung dari ketebalan, kualitas kertas maupun asal penerbit (yg terakhir ini analisis saya lho…).

Jika suatu pameran di meriahkan oleh YA, pengunjung(tertentu) pasti senang namun sebaliknya, penerbit sebagai kompetitor di pameran akan gigit jari (analisisku lagi…). Jadi misalnya dalam satu tahun ada 10 kali pameran buku, maka untuk tahun yang berikutnya, para kompetitor pasti akan mulai mengigit jari kaki mereka (he he he…). Dari pengalaman adikku, yang pernah ke pameran buku 5 kali dalam 6 hari pameran (malah pernah sehari dua kali, cuman untuk ber-YA-ria), dia bisa membeli sebuah buku lebih murah dibandingkan buku yang sama, yang masih di display stan lain.

Tapi memang dibutuhkan tenaga ekstra dan adrenali yang berlebih jika ingin ber-YA-ria, bagaimana tidak, untuk memporak-pornadakan susunan buku yang ada, kita harus berdesak-desakan dan saling bertukar bau keringat. Selain itu siapkan juga muka innocent+pd, soalnya dalam ritual tersebut pasti akan diawasi oleh bapak2/mas2 tukang ngrapiin buku, tentu dengan wajahnya yang selalu frustasi :-P

Ber-YA-ria ternyata telah mengubah paradigma membeli buku bagi sebagian orang. Biasanya orang membeli buku di toko buku untuk membeli judul buku tertentu, yang telah di rencanakan dari rumah, namun lain di YA, mereka akan memutuskan membeli buku setelah melihat beberapa judul buku, dengan harga yang murah tentunya. Namun teori ini tidak berlaku bagi orang berduit yang memang sengaja ke toko buku untuk lihat-lihat dan memborong banyak buku. YA cocok untuk orang-orang yang pengin melengkapi koleksi bukunya yang masih kurang, bahkan orang bisa memutuskan untuk mengoleksi serial tertentu (padahal di rumah belum memiliki satu jilid-pun), jika memang di sana tersedia beberapa jilid serial tersebut (weh…bingung nih nulisnya).

YA bisa juga digunakan sebagai parameter, seberapa sukses sebuah terbitan itu laku di pasaran. Bagi kamu seorang penulis buku/ novelis siap-siap saja menitikkan air mata kekecewaan :-P jika buku karya kamu sudah bersliweran di YA dan menjadi anggota keluarga besar rak-rak buku di YA sebagai buku obralan, itu tandanya buku kamu tidak sukses (hmm kejamnya dunia…). Jadi selain bisa memporak-porandakan gelaran bookfair, YA juga bisa memporak-porandakan hati seorang penulis buku, weh….

Untuk kedepan, kelihatanya YA di bookfair akan sedikut mengalami penurunan pamor, paling tidak hal itu menurut pendapatku. Pada waktu itu sedang semangat-semangatnya ber-YA-ria, adikku yang kebetulan sudah selesai dan membayar buku, menunjukkan leaflet yang bertuliskan bahwa akan di buka toko Yusuf Agency, saat itu juga aku hentikan kegiatan hunting-ku, oke deh cukup, kan bisa diteruskan besok lagi di Toko Buku Yusuf Agency (meskipun kelihatannya tidak se asyik di bookfair).

Ramadhan sudah datang lagi

Wednesday, September 12th, 2007

Wah nggak kerasa sudah Ramadhan….
Waktu memang sombong sekali, dipanggil aja nggak mau kembali….
Mari kita gunakan bulan Ramadhan ini untuk meningkatkan amal ibadah kita…
Dan kita gunakan bulan Ramadhan sebagai template untuk bulan-bulan selanjutnya…..

Hari baru, Tempat kerja baru

Friday, September 7th, 2007

Wah…. akhirnya aku ngantor, yang tadinya mroyek sana-sini, sekarang lebih terarah.
Tapi mroyek juga berjalan terus (dan harus) soale udah komitmen. Aku (mulai) bersukur bisa diterima di tempat kerjaku yang sekarang karena masih bisa mroyek di luar, hasil mroyek kan lebih besar dari gaji bulanan. Hari-hari pertama kerja teman sekerja cukup mendukung, boss juga enak, suasana kerja juga enak dan fasilitas lebih dari cukup. Hanya saja tempat kerjanya agak bising + dingin, soalnya di dalam ruang server. Semoga saja ditempat yang baru ini aku dapat cepat menyesuaikan diri dengan tempat dan teman kerjaku. Jadi inget sama pesan temenku, “Kerjaan itu nomor dua, yang nomor satu adalah teman kerja”. Perlu diingat…