Archive for the ‘Unek-unek’ Category

Upgrade RAM notebook di Jogjatronik

Tuesday, December 20th, 2011

Karena istri sudah (sangat) nge-drel minta dibelikan RAM, akhirnya… Minggu tanggal 18 Desember 2011 malam, aku dan istri pergi ke Jogjatronik untuk nambah memori notebook. Aku sengaja memilih toko dimana dulu notebook dibeli, yaitu ditoko notebook yang namanya pake angka “77″. Sebenernya istriku menyarankan belinya di toko komputer deket UGM saja, soalnya menurut temen istriku disana lebih murah. Setelah sampai di Jogjatronik, motor aku parkir didepan gedung, soalnya kalo parkir di dalam terlalu jauh, pas gak hujan juga.

Sampai di gerai toko yang dimaksud, langsung ngomong sama penunggu tokonya (lebih tepatnya teknisi, wong tukang bongkar n instal juga).

Aku : Mas, mo upgrad RAM nih… 1 giga brapa ya..?

Mas penjaga toko : bentar mas… (trus liat di monitor komputer). 110 ribu mas…

Istriku : mbok skalian 2 giga aja Mas, biar jadi 3 giga, soale lemot tenan jhe laptopku…

Aku : kalo 2 giga brapa Mas?

Mas penjaga toko : bentar mas… (trus liat di monitor komputer lagi), 170 ribu mas…

Aku : (setelah ngobrol sama istri sebentar) iya deh mas…jadi  2 giga…

setelah selesai di upgrade dan memastikan sudah ter-instal 3 giga aku bilang sama mas-nya..

Aku : di kasih diskon ya mas…

Mas penjaga toko : gimana kalo 200 ribu aja Om.. hee…

Aku : (diam sejenak sambil mikir, kira2 masnya ini bercanda ato serius yah… akhirnya aku ikutan ketawa aja…)

Yang aku pikir adalah, wong aku mintanya diskon tapi kok malah mau di kemplang… meskipun Masnya ngomong sambil tertawa, tapi aku liat wajahnya serius… kalo orang jawa bilang ’sengakk’. Salahku juga sih.. minta potongan harga kok setelah dipasang RAM-nya. Habis itu pas istriku tanya-tanya, konsultasi soal notebook dia yang bermasalah masnya dengan nada males-malesan sambil bilang, ” tanyakan ke service centernya aja mbak…”. Gak tau dia males jawab pertanyaan ato emang gak puya solusi, yang jelas setelah liat kaya’ gitu aku langsung bayar dan pergi dari toko itu… tidak lupa minta nota pembelian RAM 2 giga senilai 170 ribu, soalnya kalo tidak diminta gelagatnya memang tidak akan dikasih…

Dari kejadian diatas ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan dan pelajaran, terutama buat aku, yaitu :

  • bahwa tidak semua toko itu memiliki pelayan yang menyenangkan.
  • bahwa tidak semua toko memiliki layanan purna jual yang bagus, asalkan barang mereka sudah laku ya sudah, gak perlu memikirkan pelanggan yang memiliki kesulitan.
  • mintalah diskon/potongan harga didepan, sebelum barang di-’eksekusi’.

Bertemu dengan My First Love, ha ha ha…

Saturday, April 25th, 2009

Judul postingan ini mungkin mengada-ada dan hanya fantasiku saja…, tapi memang bener mengada-ada kok he he…

kebetulan tadi malam Aku ke tempat tetangga yang sedang ada peringatan “ke-sekian-hari” meninggalnya eyang tetanggaku (sudut pandang orang yg sedang Aku bicarakan). Seperti pemuda kampung pada umumnya (baca ini), Aku ke tempat tetanggaku tadi bermaksud membantu acara peringatan tersebut. Nah di sana itu Aku ketemu teman luammaaaaa banget yang jarang ketemu, Aku gak sering ketemu soalnya Dia memang rumahnya enggak di kampungku. Dia teman yang dulu suka maen bareng, entah dulu maen apa ya? mungkin tanah, pasir atau yang lain Aku juga agak lupa (habis jadul sihh…).

Dalam acara itu Aku ketemu dengan temen waktu kita dulu masih balita, yang kalo diturut sebenarnya sodara juga. Tapi sayangnya tak ada hal yang sempat diomongkan waktu itu, soalnya memang gak ada yang perlu diomongkan kai ya? yang pasti Dia tetap cantik seperti dulu ha ha ha…;

Yah… dari pertemuan itu paling tidak ada beberapa hal yang dapat kujadikan perenungan; salah satunya adalah, Aku mulai sadar bahwa diriku sudah tidak kecil lagi, nah… dari -ketidak kecilanku lagi- itu, Aku (ternyata) belum cukup berbuat banyak untuk orang-orang dekatku atau mungkin untuk mereka, orang-orang -entah siapa- yang sebenarnya membutuhkan diriku.

Yaudah gitu aja ceritanya… dari pada tulisan ini mengarah ke hal yang serius (soalnya dari awal emang gak pengin nulis hal serius). Weh… moga-moga tulisan ini gak sampe ke Dia… he he.. takut Dia GR Aku katakan cantik ;-) . Eh… tapi kira-kira Dia inget enggak ya kalu dulu kita pernah maen bareng, yah… kenapa Aku gak tanya ke Dia waktu itu… hmmmmm.

Pak Trimo, sang Pengantar Majalah

Friday, April 10th, 2009

Tiap awal bulan atau akhir bulan sebelumya (awas! ini contoh kalimat mbulet he he…), ada bapak-bapak berkacamata tebal yang datang membawa 2 majalah bulanan (CHIP dan InfoLinux) ke ruangan kantorku, dia adalah Pak Trimo sang pengantar majalah. Kita saling akrab dan selalu menyapa, plus jabat tangan kalo ketemu di kantor. Tapi, suatu ketika ada hal yang membuat aku sangat terkejut dan berpikir yang tidak baik terhadap Pak Trimo.

Pada waktu itu aku sedang jalan di luar kantor dan kebetulan berpapasan denga Pak Trimo, kami sempat saling berpandangan, kontan saja aku tersenyum padanya, tapi ternyata Pak Trimo hanya diam dan berlalu begitu saja. Aneh… itu kata yang terbersit di kepalaku, betapa tidak, kita yang sering berakrab-akraban kok tiba-tiba seakan tidak saling mengenal, memang sih kita agak jauh waktu berpapasan. Apakah Pak trimo yang selama ini aku kenal orang yang sombong atau orang yang bagai mana… aku malah semakin bertnya-tanya. Pikiran itu sempat beberapa minggu ada di otakku, sampai pada akhirnya aku ketemu dengan Pak Trimo dan terjawab sudah semuanya.

Pertemuan yang menyadarkan aku itu terjadi di dalam kantorku, seperti biasa Pak Trimo membawa majalah langganan dan seperti biasa juga Dia ramah dan (selalu) berjabat tangan dengan aku dan yang lain. Nah… di situlah aku baru sadar kesalahanku yang kurang paham situasi, yap betul… Pak Trimo memakai kacamata minus yang sangan tebal (kocomoto tutup lodhong, kata orang jawa). Pupus sudah pikiran jelekku padanya, setelah di pikir-pikir memang kacamata itu yang membuyarkan pandangannya sehingga tak sempat membalas senyuman aku. Dengan kacamata setebal itu, ditambah jarak yang cukup jauh, tak mungin dia melihat senyuman (manis) ku,hweekkk…atau bahkan wajah (sebenarnya mo bilang ganteng, he he…) ku-pun mungkin tak bisa ditangkap indera pengelihatannya. Beda kalo di kantor yang jarak pandang relatif dekat dan tidak silau.

Yah.. semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk diriku atau siapa saja yang kebetulan memiliki kejadian serupa. Suatu saat jika kita diperlakukan aneh oleh orang, terutama orang yang akrab dengan kita, coba deh… kita pelajari segala situasi dan kondisinya, mungkin ada sesuatu yang mis. Satu kata dariku maaf Pak Trimo…

Wajah kepedulian sosial saat ini

Saturday, December 15th, 2007

Rasa saling tolong menolong dan saling peduli sudah semakin menurun di dunia ini, yah.. paling tidak itu menurut pendapatku. Kesimpulan itu aku ambil karena aku sendiri yang mengalami dan melihat, betapa kepedulian terhadap sesama semakin payah.

Ceritanya kemarin (waktu: kamis,13/12/07 15:30, TKP:ringroad barat jogja, deket pabrik ABCD) lagi enak2-nya ber motor-ria sambil pulang kerja, eh… tiba-tiba ada motor jatuh sendiri pas di depan ku (bukan jatuh dari langit lho, wah… apa ya istilahnya). Nggak tau kenapa tuh motor jatuh sendiri, dugaan-ku karena terpeleset/ selip, soalnya waktu itu memang sedang hujan dengan cukup deras. Spontan aku hentikan motorku di pinggir jalan diikuti oleh seorang Bapak yang juga trus berhenti (meskipun kemudian cepat pergi). Si pengendara yang ternyata seorang Ibu langsung aku bantu ke pinggir jalan, dan untungnya ada seorang Bapak satpam pabrik yang juga membantu meminggirkan motor tadi. Si Ibu tadi mengeluh kesakitan di bagian kakinya, setelah kulihat, waduuuhh… ternyata jari kakinya ada yang patah, dan darahnya keluar cukup banyak… Aku kemudian tanya kepada Pak satpam apakah dia punya kotak P3K, wehh… ternyata dia gak punya kotak P3K (kalo dipikir aneh juga masak pabrik besar gitu gak ada peralatan P3K sedikitpun).

Kemudian dengan masih mengenakan jas hujan aku mencari rumah dekat situ untuk mencari P3K. Setelah mencari kesana-kemari aku kembali ke si Ibu dengan hanya membawa kapas sedikit, yah.. walau cuman sedikit tapi untunglah ada sesuatu untuk membasuh lukanya, yang aku pikir cukup parah. Setelah itu aku dan Pak satpam mencoba mencari/menghentikan mobil yang lewat untuk membawa si Ibu ke rumah sakit. Dari banyak mobil yang lalu-lalang cuman satu mobil saja yang berhasil di-hentikan, setelah mengutarakan maksud dan tujuan kita, ehh… Bapak supir mobil tadi memutuskan untuk tidak bisa menolong, soalnya keburu ada rapat penting, katanya.

Yaudah deh… akhirnya si ibu tadi ku bonceng naik motorku menuju ke klinik terdekat. Untuk menghentikan darah yang keluar, kuikat kaki Ibu tadi dengan sobekan jas hujan yang kebetulan mamang sudah rusak. Huh… lega, akhirnya tak berapa lama sampai juga di klinik yang jaraknya sekitar 3 km. Setelah menelepon keluarga dan menunggu cukup lama, akhirnya keluarga Ibu tadi datang, dan setelah berpamitan pada si Ibu aku trus pulang…

Dari kejadian itu terdapat beberapa indikasi yang aneh :

  • Dari sekian banyak motor yang lewat hanya 2 orang yang mau berhenti untuk menolong, meskipun yang satu kemudian cepat pergi.
  • Dari sekian banyak mobil yang diminta berhenti untuk diminta-i tolong tidak ada satupun yang mau.
  • Tidak ada orang yang mo keluar rumah untuk membantu meskipun mereka tau disitu ada kecelakaan.
  • Ada sebuah pabrik besar yang tidak memiliki peralatan P3K sedekitpun (aneh ya?).

Huh.. memang dunia semakin aneh…

Selamat jalan Ipuss…

Monday, November 12th, 2007

Sebenarya aku males banget menulis ini, tapi yang namanya perasaan, baik itu senang ataupun sedih tidak baik jika hanya di simpan dalam hati, harus diungkapkan. Kali ini giliran perasaan sedih yang sedang terus menggelayuti diriku, memang jika yang mengalami ini orang lain mungkin biasa saja, tapi tidak untuk diriku. Kalaupun aku seorang cewek pasti juga sudah menagis. Ipuss kesayangan keluarga ku tutup usia…

Aku tidak menyangka jika hal itu akan terjadi. Dua hari sebelumya memang dia sudah kelihatan tidak seperti biasa, yang biasanya ceria akhir-akhir ini menjadi pemurung dan diam saja. Benar saja ketika menginjak hari ketiga penyakit dia semakin parah, nggak mau makan minum dan akhirnya dibawa ke dokter. Setelah diobati dokter memang kelihatan agak lumayan, tapi hari berikutnya penyakitnya semakin parah saja, dan dapat ditebak, akhirnya Ipuss tidak dapat bertahan.

Selamat jalan teman… mungkin sudah dicukupkan keluarga ku untuk mengasuh dirimu….terimakasih atas segala perilakumu yang banyak menghibur walau kadang nakal… Aku tahu…bahwa kamu juga mengetahui, keluarga ku benar-benar tulus memeliharamu selama ini…

Hidup di Kampung, Gampang-Gampang Susah!

Wednesday, November 7th, 2007

Hidup di kampung memang gampang-gampang susah, kalaupun hal itu tidak bisa di sebut dengan susah-susah gampang. Bayangkanlah seguabrek kegiatan kampung, mulai dari kumpulan pemuda, kumpulan orang tua (pengurus pemuda harus ikut acara ini!), ronda malam, tujuh-belasan (pencarian dana, lomba anak-anak, malam tirakatan dan jalan santai), Romadhon dikampung (takjilan anak2 di mushola, bangunin orang sahur, pengumpulan+pembagian zakat, takbir keliling, malam syawalan), pengajian rutin, hari raya kurban, kerja bakti, hajatan ini-itu, dan lain sebagainya.

Sebagai pemuda di kampung kadang malas dan jenuh dengan kegiatan yang banyak sekali itu. Pernah suatu ketika dalam jangka waktu satu setengah bulan ada hajatan pernikahan sampai 4 kali! bayangkanlah!!! (membayangkan dimulai ….)

FYI: bahwa dalam hajatan pernikahan ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan oleh pemuda kampung antara lain:

  • rapat pembentukan panitia
  • pengambilan perkakas dari gudang
  • pemasangan perkakas (tenda, meja, kursi, alat-alat masak, membuat background, dlsb)
  • piket ‘laden’ (melayani tamu yang datang ngasih sumbangan) 2 hari sebelum resepsi.
  • acara puncak resepsi pernikahan (pemuda melayani tamu yang hadir resepsi=sinoman)
  • pembongkaran perkakas + mengembalikan ke gudang.
  • rapat penutupan panitia

Rata-rata sekali hajatan nikah memerlukan waktu paling cepat 1 minggu, kadang lebih. contoh :
minggu: rapat pembentukan panitia
senin: pengambilan perkakas+pemasangan
selasa: piket melayani tamu
rabu: piket melayani tamu
kamis: acara puncak resepsi
jum’at: pembongkaran perkakas+mengembalikan
sabtu: rapat penutupan panitia

Sekarang bayangkan itu terjadi 4 kali dalam waktu 1,5 bulan (huh…saya sendiri tidak bisa membayangkan, tapi saya mengalaminya). Ini baru cerita masalah pernikahan lho, belum yang lainnya.

Kalau dirasakan memang capek dan malas melakukan semua kegiatan itu, tapi dalam bermasyarakat dikampung kita saling membantu, dan seolah kita melakukan investasi bantuan. Karena dimasa yang akan datang jika kita sedang ada hajatan atau kesusahan, kita tidak akan kebingungan harus meminta bantuan siapa, masyarakat + pemuda siap sedia membantu. Sebagai pemuda kampung memang dituntut kesadaran tinggi untuk melakukan semua kegiatan yang seabrek itu. Huh…h
(cerita gak penting lagi).

Syawalan yang kurang khusyuk (bagiku)

Thursday, October 25th, 2007

Seperti tahun-tahun sebelumnya dan memang sudah merupakan adat kebiasaan, di kampungku diadakan malam syawalan atau halal bi halal. Tujuan utama dari acara ini adalah sebagai sarana untuk saling bermaaf-maaf-an seluruh warga kampung. Beberapa acara inti adalah sambutan2, ikrar sungkem dari generasi muda kepada generasi tua yang diwakilkan oleh dua orang yang ditunjuk, dilanjutkan dengan pengajian inti syawalan.

Tapi syawalan tahun ini kurang terasa khusyuk bagi diriku, soalnya untuk kali ini diriku diserahi tugas yang menurutku cukup membuat pusing. Menyesal aku telah menyepelekan kerjaan sperti itu pada tahun2 sebelumnya. Yang benar saja… Aku ditunjuk menjadi pembawa acara, tugas yang mungkin kalo bagi orang lain gampang, tapi bagi aku yang suka kikuk di depan banyak orang, cukup membuat pusing plus grogi. Dari yang harus membuat susunan acara, mencari info para pengisi acara, mengecek persiapan seluruh pendukung acara dan harus berangkat paling awal.

Alasan utama yang membuat aku kurang enjoy melakukan tugas ini adalah penggunaan Bahasa Jawa Halus (Kromo) dalam membawakan acara, trus terang aku mati gaya jika harus berbahasa dengan bahasa super ribet ini. Kalo menggunakan bahasa Indonesia sih nyatai aja, improvisasi mudah dilakukan, tapi kalau pake bahasa jawa… weleh… susah banget, vocab di otakku dikit, belum lagi diksinya yang harus tepat. Tapi kalo berani-berani menggunakan Bahasa Indonesia di dalam acara seperti itu, dijamin sendok, gelas dan teman2nya akan mampir di mukaku (he he.. enggak se-sadis itu kali ya…?).

Yang paling aku takutkan adalah jika terjadi perubahan susunan acara, karena disitu diperlukan improvisasi. Benar saja, ketika acara sudah berlangsung sampai pertengahan, Pak Ustad yang ditunggu-tunggu belum juga datang, waduh… bisa runyam nih…

Untung saja ada acara makan2 sebelum pengajian inti syawalan, jadi acara makan yang biasanya dialokasikan selama 2-3 lagu (diiringi lagu2 religius) aku perpanjang hingga sekitar 7 lagu, acara yang seharusnya makan2 itupun aku tak bisa menelan makanan sedikitpun… Ah… setelah menunggu akhirnya Pak Ustad datang juga… beruntunglah diriku.

Alhamdulillah secara umum acara waktu itu dapat berjalan dengan lancar, kalaupun tahun depan jadi pembawa acara lagi, emm… oke2 aja… kan udah bawa contekan seperti kali ini he he he….
(cerita gak penting yah…?)

Benar-benar hancur daganganku

Friday, October 19th, 2007

Wah benar-benar hancur daganganku, komputerku sebagai lingkungan pemrograman berubah sekejap menjadi komputer kantoran yang ‘cuman bisa buat ngetik’.

Ceritanya tadi malam anak2 kampung ke rumah, bikin cetakan huruf2 untuk dekorasi acara malam syawalan di kampungku. Pas acara nge-print huruf2, entah kenapa komputerku tiba-tiba restart sendiri, aku pikir sih karena virus baru, soalnya memang beberapa hari ini belum update antivirus.

Nah.. sambil nunggu restart aku ke belakang bikin minuman dan ambil makanan sisa lebaran untuk mereka. Betapa terkejutnya aku ketika kembali, salah seorang tetanggaku ada di depan komputer dan sedang membuka tool-tool crucial di komputerku, antara lain regedit dan msconfig, dan entah program apalagi sebelumnya. Arrrghhh… sial!

Bener juga setelah aku cek, setting di komputerku banyak yang berubah, keliatannya dia sempet mengubah (banyak) setting dan me-restart komputerku untuk kedua kalinya sebelum aku datang. Bahkan system variable dan user variable beserta setting path yang udah aku atur hilang semuanya, program startup dan service seperti server mysql, pgsql, apache, tomcat, dsb dihilangkan.

ouch...

@$*#&*, aku bener-bener susah bernafas kali ini, apalagi mendengar kuliah singkat dari dia tentang bagaimana mempercepat kinerja komputer. Dia bilang bahwa komputerku banyak virusnya, loadingnya lama dan terlalu banyak program yang jalan waktu startup. Wah tahu apa dia tentang program yang jalan ketika startup? tanyaku. Setelah emosiku (yang terpendam, soalnya aku cuma banyak diam waktu itu) agak reda, aka mulai bisa berpikir jernih dan memaklumi tindakan temenku tadi.

Temenku tadi tuh kerjanya di toko komputer, mungkin dia sering baca-baca majalah komputer seperti PCPlus, Komputek, Neotek dll, dan kemudian dipraktekkan trik-trik yang ada dalam majalah itu pada komputer2 di tokonya (dan sekarang giliran komputerku, huh…). Sempet mulai emosi lagi ketika inget bahwa, dia kan kerja di toko komputer pada bagian penjualan (sales) bukan teknisi? Tahu apa dia tentang program servis yang otomatis jalan waktu startup, setting path, regedit, dsb. wah wah…

Hehh.. Sebagai orang yang pernah kuliah komputer aku cuma bisa bicara dalam hati, bener-bener dikadalin gue! (atau mungkin di cicak-in). Bisa pada ngrasain nggak sih betapa sakitnya ketika sesuatu yang sudah kita atur biar nyaman, sedemikian rupa diobrak-abrik dalam sekajap, eeeheemhh…(masih agak susah bernafas nih).

Besok-besok nginstal deepfreeze ahh…

Gedumbrangan di pagi buta

Tuesday, October 9th, 2007

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, puasa di kampungku kali ini agak lain. Sudah hampir sebulan ini tiap pagi jam 02.30 aku mendengar suara gedumbrangan yang cukup berisik ditambah teriakan2 memekakkan telinga, menggangu tidur nyeyak orang sekampung.

Sebenarnya aku tidak kaget dengan perubahan suasana ini, soalnya kadang diriku juga ikut dalam acara gedumbrangan itu (he he…). Pada tahun sebelum2nya cara yang digunakan adalah dengan teriak-teriak menggunakan microphone mushola, yang berujung dengan saling sahut-menyahut (ato bisa dibilang ejek-mengejek) antar masjid dan mushola. Setelah dievaluasi dan dinilai kurang baik, maka dalam rapat panitia romadhon dibahas bahwa akan diadakan perubahan dalam cara ‘gugah-gugah’ masyarakat. Akhirnya cara keliling kampung sambil teriak-teriak, ditambah aksi pemukulan instrumen perkusi adalah yang disetujui bersama.

Instrumen yang dibunyikan antara lain kendang, tamborin, gamelan mainan dan tentunya mulut. Meskipun cukup terganggu tidurnya, tapi juga terbantu sahurnya.

Kalo tahun depan kira-kira pakai cara apa ya??