Pak Trimo, sang Pengantar Majalah

April 10th, 2009 | by admin |

Tiap awal bulan atau akhir bulan sebelumya (awas! ini contoh kalimat mbulet he he…), ada bapak-bapak berkacamata tebal yang datang membawa 2 majalah bulanan (CHIP dan InfoLinux) ke ruangan kantorku, dia adalah Pak Trimo sang pengantar majalah. Kita saling akrab dan selalu menyapa, plus jabat tangan kalo ketemu di kantor. Tapi, suatu ketika ada hal yang membuat aku sangat terkejut dan berpikir yang tidak baik terhadap Pak Trimo.

Pada waktu itu aku sedang jalan di luar kantor dan kebetulan berpapasan denga Pak Trimo, kami sempat saling berpandangan, kontan saja aku tersenyum padanya, tapi ternyata Pak Trimo hanya diam dan berlalu begitu saja. Aneh… itu kata yang terbersit di kepalaku, betapa tidak, kita yang sering berakrab-akraban (pake B ato P ya?) kok tiba-tiba seakan tidak saling mengenal, memang sih kita agak jauh waktu berpapasan. Apakah Pak trimo yang selama ini aku kenal orang yang sombong atau orang yang bagai mana… aku malah semakin bertnya-tanya. Pikiran itu sempat beberapa minggu ada di otakku, sampai pada akhirnya aku ketemu dengan Pak Trimo dan terjawab sudah semuanya.

Pertemuan yang menyadarkan aku itu terjadi di dalam kantorku, seperti biasa Pak Trimo membawa majalah langganan dan seperti biasa juga Dia ramah dan (selalu) berjabat tangan dengan aku dan yang lain. Nah… di situlah aku baru sadar kesalahanku yang kurang paham situasi, yap betul… Pak Trimo memakai kacamata minus yang sangan tebal (kocomoto tutup lodhong, kata orang jawa). Pupus sudah pikiran jelekku padanya, setelah di pikir-pikir memang kacamata itu yang membuyarkan pandangannya sehingga tak sempat membalas senyuman aku. Dengan kacamata setebal itu, ditambah jarak yang cukup jauh, tak mungin dia melihat senyuman (manis) ku,hweekkk…atau bahkan wajah (sebenarnya mo bilang ganteng, he he…) ku-pun mungkin tak bisa ditangkap indera pengelihatannya. Beda kalo di kantor yang jarak pandang relatif dekat dan tidak silau.

Yah.. semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk diriku atau siapa saja yang kebetulan memiliki kejadian serupa. Suatu saat jika kita diperlakukan aneh oleh orang, terutama orang yang akrab dengan kita, coba deh… kita pelajari segala situasi dan kondisinya, mungkin ada sesuatu yang mis. Satu kata dariku ‘maaf Pak Trimo’ (eh… ternyata tiga ya? masak tiga kata dariku…).

  1. 1 Trackback(s)

  2. Jun 5, 2010: Monah

Post a Comment