Hidup di Kampung, Gampang-Gampang Susah!
November 7th, 2007 | by admin |Hidup di kampung memang gampang-gampang susah, kalaupun hal itu tidak bisa di sebut dengan susah-susah gampang. Bayangkanlah seguabrek kegiatan kampung, mulai dari kumpulan pemuda, kumpulan orang tua (pengurus pemuda harus ikut acara ini!), ronda malam, tujuh-belasan (pencarian dana, lomba anak-anak, malam tirakatan dan jalan santai), Romadhon dikampung (takjilan anak2 di mushola, bangunin orang sahur, pengumpulan+pembagian zakat, takbir keliling, malam syawalan), pengajian rutin, hari raya kurban, kerja bakti, hajatan ini-itu, dan lain sebagainya.
Sebagai pemuda di kampung kadang malas dan jenuh dengan kegiatan yang banyak sekali itu. Pernah suatu ketika dalam jangka waktu satu setengah bulan ada hajatan pernikahan sampai 4 kali! bayangkanlah!!! (membayangkan dimulai ….)
FYI: bahwa dalam hajatan pernikahan ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan oleh pemuda kampung antara lain:
- rapat pembentukan panitia
- pengambilan perkakas dari gudang
- pemasangan perkakas (tenda, meja, kursi, alat-alat masak, membuat background, dlsb)
- piket ‘laden’ (melayani tamu yang datang ngasih sumbangan) 2 hari sebelum resepsi.
- acara puncak resepsi pernikahan (pemuda melayani tamu yang hadir resepsi=sinoman)
- pembongkaran perkakas + mengembalikan ke gudang.
- rapat penutupan panitia
Rata-rata sekali hajatan nikah memerlukan waktu paling cepat 1 minggu, kadang lebih. contoh :
minggu: rapat pembentukan panitia
senin: pengambilan perkakas+pemasangan
selasa: piket melayani tamu
rabu: piket melayani tamu
kamis: acara puncak resepsi
jum’at: pembongkaran perkakas+mengembalikan
sabtu: rapat penutupan panitia
Sekarang bayangkan itu terjadi 4 kali dalam waktu 1,5 bulan (huh…saya sendiri tidak bisa membayangkan, tapi saya mengalaminya). Ini baru cerita masalah pernikahan lho, belum yang lainnya.
Kalau dirasakan memang capek dan malas melakukan semua kegiatan itu, tapi dalam bermasyarakat dikampung kita saling membantu, dan seolah kita melakukan investasi bantuan. Karena dimasa yang akan datang jika kita sedang ada hajatan atau kesusahan, kita tidak akan kebingungan harus meminta bantuan siapa, masyarakat + pemuda siap sedia membantu. Sebagai pemuda kampung memang dituntut kesadaran tinggi untuk melakukan semua kegiatan yang seabrek itu. Huh…h
(cerita gak penting lagi).

1 Trackback(s)