Syawalan yang kurang khusyuk (bagiku)
October 25th, 2007 | by admin |Seperti tahun-tahun sebelumnya dan memang sudah merupakan adat kebiasaan, di kampungku diadakan malam syawalan atau halal bi halal. Tujuan utama dari acara ini adalah sebagai sarana untuk saling bermaaf-maaf-an seluruh warga kampung. Beberapa acara inti adalah sambutan2, ikrar sungkem dari generasi muda kepada generasi tua yang diwakilkan oleh dua orang yang ditunjuk, dilanjutkan dengan pengajian inti syawalan.
Tapi syawalan tahun ini kurang terasa khusyuk bagi diriku, soalnya untuk kali ini diriku diserahi tugas yang menurutku cukup membuat pusing. Menyesal aku telah menyepelekan kerjaan sperti itu pada tahun2 sebelumnya. Yang benar saja… Aku ditunjuk menjadi pembawa acara, tugas yang mungkin kalo bagi orang lain gampang, tapi bagi aku yang suka kikuk di depan banyak orang, cukup membuat pusing plus grogi. Dari yang harus membuat susunan acara, mencari info para pengisi acara, mengecek persiapan seluruh pendukung acara dan harus berangkat paling awal.
Alasan utama yang membuat aku kurang enjoy melakukan tugas ini adalah penggunaan Bahasa Jawa Halus (Kromo) dalam membawakan acara, trus terang aku mati gaya jika harus berbahasa dengan bahasa super ribet ini. Kalo menggunakan bahasa Indonesia sih nyatai aja, improvisasi mudah dilakukan, tapi kalau pake bahasa jawa… weleh… susah banget, vocab di otakku dikit, belum lagi diksinya yang harus tepat. Tapi kalo berani-berani menggunakan Bahasa Indonesia di dalam acara seperti itu, dijamin sendok, gelas dan teman2nya akan mampir di mukaku (he he.. enggak se-sadis itu kali ya…?).
Yang paling aku takutkan adalah jika terjadi perubahan susunan acara, karena disitu diperlukan improvisasi. Benar saja, ketika acara sudah berlangsung sampai pertengahan, Pak Ustad yang ditunggu-tunggu belum juga datang, waduh… bisa runyam nih…
Untung saja ada acara makan2 sebelum pengajian inti syawalan, jadi acara makan yang biasanya dialokasikan selama 2-3 lagu (diiringi lagu2 religius) aku perpanjang hingga sekitar 7 lagu, acara yang seharusnya makan2 itupun aku tak bisa menelan makanan sedikitpun… Ah… setelah menunggu akhirnya Pak Ustad datang juga… beruntunglah diriku.
Alhamdulillah secara umum acara waktu itu dapat berjalan dengan lancar, kalaupun tahun depan jadi pembawa acara lagi, emm… oke2 aja… kan udah bawa contekan seperti kali ini he he he….
(cerita gak penting yah…?)
