Bertemu dengan My First Love, ha ha ha…


Judul postingan ini mungkin mengada-ada dan hanya fantasiku saja…, tapi memang bener mengada-ada kok he he…

kebetulan tadi malam Aku ke tempat tetangga yang sedang ada peringatan “ke-sekian-hari” meninggalnya eyang tetanggaku (sudut pandang orang yg sedang Aku bicarakan). Seperti pemuda kampung pada umumnya (baca ini), Aku ke tempat tetanggaku tadi bermaksud membantu acara peringatan tersebut. Nah di sana itu Aku ketemu teman luammaaaaa banget yang jarang ketemu, Aku gak sering ketemu soalnya Dia memang rumahnya enggak di kampungku. Dia teman yang dulu suka maen bareng, entah dulu maen apa ya? mungkin tanah, pasir atau yang lain Aku juga agak lupa (habis jadul sihh…).

Dalam acara itu Aku ketemu dengan temen waktu kita dulu masih balita, yang kalo diturut sebenarnya sodara juga. Tapi sayangnya tak ada hal yang sempat diomongkan waktu itu, soalnya memang gak ada yang perlu diomongkan kai ya? yang pasti Dia tetap cantik seperti dulu ha ha ha…;

Yah… dari pertemuan itu paling tidak ada beberapa hal yang dapat kujadikan perenungan; salah satunya adalah, Aku mulai sadar bahwa diriku sudah tidak kecil lagi, nah… dari -ketidak kecilanku lagi- itu, Aku (ternyata) belum cukup berbuat banyak untuk orang-orang dekatku atau mungkin untuk mereka, orang-orang -entah siapa- yang sebenarnya membutuhkan diriku.

Yaudah gitu aja ceritanya… dari pada tulisan ini mengarah ke hal yang serius (soalnya dari awal emang gak pengin nulis hal serius). Weh… moga-moga tulisan ini gak sampe ke Dia… he he.. takut Dia GR Aku katakan cantik ;-) . Eh… tapi kira-kira Dia inget enggak ya kalu dulu kita pernah maen bareng, yah… kenapa Aku gak tanya ke Dia waktu itu… hmmmmm.

Upgrade Wordpress 2.7, Sukses… yes yes yes….


Akhirnya berhasil juga upgrade wordpress!!!.

Dalam rangka ‘pindah rumah’ untuk blog-ku dari hosting kampus (nugie.web.ugm.ac.id) ke hosting dan alamat baru (nugie.info) maka aku putuskan upgrade ‘mesin blog’ (wordpress=WP). Upgrade kali ini bener-bener jauh sekali, maksudnya jarak versinya. Bayangkan (khusus buat yang bisa membayangkan) dari versi 2.1.3 ke 2.7.1 alias WP yang terbaru (per 20/04/09). setelah banyak mencari referensi dengan bantuan om google, maka ketemu sekenario yang paling cepat dan ampuh.

Pertama, secara bodon (kata orang jawa, habis cari versi indonesianya gak nemu-nemu) Aku replace saja script WP lama dengan yang baru trus milih opsi upgrade pada sesi instalasi (wordpress\wp-admin\upgrade.php) eh… ternyata ngadat alias gak mau (kalo di keluargaku kalimat ini disebut dengan personifikasi). setelah Aku lihat script sql-nya, benar saja, ternyata ada perombakan cukup banyak di struktur databasenya, ok deh… dari pada ngulik script yang membuat aku pusing lebih baik meminta bantuan paman google saja. Akhirnya ketemu deh… wordpress-automatic-upgrade.

Wordpress-automatic-upgrade merupakan sebuah plugin WP yang di pasang di WP versi lama kita yang mau di upgrade. pokoknya yang pengin upgrade WP dari versi 1.5.2 keatas, silahkan download di sini . Plugin ini menyediakan wizard yang runut dan mudah dipahami, dari backup DB->backup script->restrukturisasi DB->upgrade script, serta bonus Log upgrade.

Tapi ada satu tips dari saya, coba gunakan tool ini sebagai alat untuk upgrade Db saja, jadi scriptnya tetep install secara clean, kemudian DB uang ter upgrade tadi kita restor ke clean installation tadi, biar script WP kelihatan fresh. kemudian tinggal manipulasi data di tabel wp_options. Sekian dan terimakasih….. lho…

Pak Trimo, sang Pengantar Majalah


Tiap awal bulan atau akhir bulan sebelumya (awas! ini contoh kalimat mbulet he he…), ada bapak-bapak berkacamata tebal yang datang membawa 2 majalah bulanan (CHIP dan InfoLinux) ke ruangan kantorku, dia adalah Pak Trimo sang pengantar majalah. Kita saling akrab dan selalu menyapa, plus jabat tangan kalo ketemu di kantor. Tapi, suatu ketika ada hal yang membuat aku sangat terkejut dan berpikir yang tidak baik terhadap Pak Trimo.

Pada waktu itu aku sedang jalan di luar kantor dan kebetulan berpapasan denga Pak Trimo, kami sempat saling berpandangan, kontan saja aku tersenyum padanya, tapi ternyata Pak Trimo hanya diam dan berlalu begitu saja. Aneh… itu kata yang terbersit di kepalaku, betapa tidak, kita yang sering berakrab-akraban (pake B ato P ya?) kok tiba-tiba seakan tidak saling mengenal, memang sih kita agak jauh waktu berpapasan. Apakah Pak trimo yang selama ini aku kenal orang yang sombong atau orang yang bagai mana… aku malah semakin bertnya-tanya. Pikiran itu sempat beberapa minggu ada di otakku, sampai pada akhirnya aku ketemu dengan Pak Trimo dan terjawab sudah semuanya.

Pertemuan yang menyadarkan aku itu terjadi di dalam kantorku, seperti biasa Pak Trimo membawa majalah langganan dan seperti biasa juga Dia ramah dan (selalu) berjabat tangan dengan aku dan yang lain. Nah… di situlah aku baru sadar kesalahanku yang kurang paham situasi, yap betul… Pak Trimo memakai kacamata minus yang sangan tebal (kocomoto tutup lodhong, kata orang jawa). Pupus sudah pikiran jelekku padanya, setelah di pikir-pikir memang kacamata itu yang membuyarkan pandangannya sehingga tak sempat membalas senyuman aku. Dengan kacamata setebal itu, ditambah jarak yang cukup jauh, tak mungin dia melihat senyuman (manis) ku,hweekkk…atau bahkan wajah (sebenarnya mo bilang ganteng, he he…) ku-pun mungkin tak bisa ditangkap indera pengelihatannya. Beda kalo di kantor yang jarak pandang relatif dekat dan tidak silau.

Yah.. semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk diriku atau siapa saja yang kebetulan memiliki kejadian serupa. Suatu saat jika kita diperlakukan aneh oleh orang, terutama orang yang akrab dengan kita, coba deh… kita pelajari segala situasi dan kondisinya, mungkin ada sesuatu yang mis. Satu kata dariku ‘maaf Pak Trimo’ (eh… ternyata tiga ya? masak tiga kata dariku…).

Yusuf Agency (memporak-porandakan bookfair)


Stan (apa Stand ya?) Yusuf Agency (Y.A.) selalu tidak pernah ketinggalan dalam memeriahkan pameran buku (bookfair) di yogyakarta, gimana tidak memeriahkan, lha wong setiap ada pameran buku, stan YA yang paling heboh -saking hebohnya, malah ada pengunjung yang masuk gedung pameran langsung menuju stan YA yang biasanya berada di paling pojok-. Jangan melihat bagaimana cara menyuguhkan jualannya yang porak poranda -pada awalnya tersusun rapi, tapi karena adrenalin pengunjung yang sangat berlebihan jadi porak pornada deh-, tapi lihatlah dari harga buku yang ditawarkan. YA menaksir harga dari keadaan fisik buku, biasanya buku dihargai dengan kelipatan 5 ribu, yakni 5rb, 10rb, 20rb, dst, tergantung dari ketebalan, kualitas kertas maupun asal penerbit (yg terakhir ini analisis saya lho…).

Jika suatu pameran di meriahkan oleh YA, pengunjung(tertentu) pasti senang namun sebaliknya, penerbit sebagai kompetitor di pameran akan gigit jari (analisisku lagi…). Jadi misalnya dalam satu tahun ada 10 kali pameran buku, maka untuk tahun yang berikutnya, para kompetitor pasti akan mulai mengigit jari kaki mereka (he he he…). Dari pengalaman adikku, yang pernah ke pameran buku 5 kali dalam 6 hari pameran (malah pernah sehari dua kali, cuman untuk ber-YA-ria), dia bisa membeli sebuah buku lebih murah dibandingkan buku yang sama, yang masih di display stan lain.

Tapi memang dibutuhkan tenaga ekstra dan adrenali yang berlebih jika ingin ber-YA-ria, bagaimana tidak, untuk memporak-pornadakan susunan buku yang ada, kita harus berdesak-desakan dan saling bertukar bau keringat. Selain itu siapkan juga muka innocent+pd, soalnya dalam ritual tersebut pasti akan diawasi oleh bapak2/mas2 tukang ngrapiin buku, tentu dengan wajahnya yang selalu frustasi :-P

Ber-YA-ria ternyata telah mengubah paradigma membeli buku bagi sebagian orang. Biasanya orang membeli buku di toko buku untuk membeli judul buku tertentu, yang telah di rencanakan dari rumah, namun lain di YA, mereka akan memutuskan membeli buku setelah melihat beberapa judul buku, dengan harga yang murah tentunya. Namun teori ini tidak berlaku bagi orang berduit yang memang sengaja ke toko buku untuk lihat-lihat dan memborong banyak buku. YA cocok untuk orang-orang yang pengin melengkapi koleksi bukunya yang masih kurang, bahkan orang bisa memutuskan untuk mengoleksi serial tertentu (padahal di rumah belum memiliki satu jilid-pun), jika memang di sana tersedia beberapa jilid serial tersebut (weh…bingung nih nulisnya).

YA bisa juga digunakan sebagai parameter, seberapa sukses sebuah terbitan itu laku di pasaran. Bagi kamu seorang penulis buku/ novelis siap-siap saja menitikkan air mata kekecewaan :-P jika buku karya kamu sudah bersliweran di YA dan menjadi anggota keluarga besar rak-rak buku di YA sebagai buku obralan, itu tandanya buku kamu tidak sukses (hmm kejamnya dunia…). Jadi selain bisa memporak-porandakan gelaran bookfair, YA juga bisa memporak-porandakan hati seorang penulis buku, weh….

Untuk kedepan, kelihatanya YA di bookfair akan sedikut mengalami penurunan pamor, paling tidak hal itu menurut pendapatku. Pada waktu itu sedang semangat-semangatnya ber-YA-ria, adikku yang kebetulan sudah selesai dan membayar buku, menunjukkan leaflet yang bertuliskan bahwa akan di buka toko Yusuf Agency, saat itu juga aku hentikan kegiatan hunting-ku, oke deh cukup, kan bisa diteruskan besok lagi di Toko Buku Yusuf Agency (meskipun kelihatannya tidak se asyik di bookfair).

Antena Handphone, mengapa kau bersembunyi…


Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi handphone (HP), kemampuan dan fiturnya semakin meningkat pula. Pada mulanya HP hanya bisa digunakan untuk menelepon, dan menerima telepon (tentunya…). Tapi akhir-akhir ini, seseorang yang sedang berlenggang sambil menggenggam HP, bisa jadi dia sedang membawa seluruh isi kantor di dalam telapak tangannya. Bagaimana tidak? dalam sebuah HP/smartphone/PDA yang paling mutakhir, di dalamya merupkan konvergensi beberapa gadget yang tadinya jalan sendiri-sendiri. Selain untuk menelepon dan mengirimkan pesan, smartphone terbaru bisa digunakan juga untuk organiser, browser internet, audio & video player, audio & video recorder, radio, game dan lain-lain. Tapi maksud ditulisnya tulisan ini *weh…* bukan untuk membahas keunggulan teknologinya lho…, tapi lebih ke revolusi form/bentuknya, lebih khususnya bentuk antenanya.

Pada umumnya bentuk HP jaman sekarang sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan tonjolan yang bernama antena meskipun kompanen ini masih (harus) ada tetapi “disembunyikan”. Antena berjasa besar bagi sebuah alat komunikasi. Bagaimana tidak berjasa, tanpa komponen yang satu ini, HP tidak layak lagi disebut HP, karena tidak bisa untuk menelepon. Okelah… kalau hanya untuk alasan style dan desain, apa ya nggak bisa memunculkan lagi antena tapi dengan bentuk yang juga bagus. Letak antena pada HP akan sangat mempengaruhi kualitas sinyal dan juga ketahanan baterai, karena kalau sinyal susah didapat maka HP akan bekerja extra dan menyebabkan baterai cepat lemah. Menurut pandanganku antena dalam HP tetap harus dibuatkan tersendiri letaknya, dan ditonjolkan!, karena fungsi akan maksimal, tidak tertutup tangan dan komunikasi lebih lancar. HP yang aku gunakan juga selalu ada tonjolan antenanya, gak tahu kenapa, pokoknya suka saja kalo HP ada tonjolan antenanya, sampai sekarangpun masih menggunakan HP yang bertonjolkan antena. Hidup antena menonjol…(lho…).

vacuum writer… II


Ini post tentang vacuum writer juga, tp ini yang kedua (II), tapi isinya sama kok dengan yang pertama. Jadi kalo mau tahu isinya silahkan baca saja vacuum writer pertama, yang intinya adalah bahwa aku gak sempat nulis blog akhir-akhir ini karena sibuk. he.. he…

vacuum writer…


Weh… udah lama gak posting urek-urekan…
Maklum baru banyak kerjaan…
Kayak ada yang (m)baca saja.. ini blog…

Install Add-ons FF Off-line


Dulu pernah download themes dan plugin untuk firefox di warnet, maksudnya untuk diinstall di komputer rumah. Setelah aku buka firefox dan mo install ternyata tidak ada fasilitas untuk insatall add-ons, karena firefox maunya secara online. setelah cari tahu sana-sini, ternyata caranya cukup simple dan cepat, yaitu :

  • buka firefox
  • buka Tool > Add-ons, (akan terbuka jendela Add-ons)
  • minimize jendela Firefox (jendela Add-ons tetep aktif)
  • buka folder penyimpan file add-ons, kemudian drag file theme (*.jar) ato plugin (*.xpi) ke jendela Add-ons.

Beress dach…

Wajah kepedulian sosial saat ini


Rasa saling tolong menolong dan saling peduli sudah semakin menurun di dunia ini, yah.. paling tidak itu menurut pendapatku. Kesimpulan itu aku ambil karena aku sendiri yang mengalami dan melihat, betapa kepedulian terhadap sesama semakin payah.

Ceritanya kemarin (waktu: kamis,13/12/07 15:30, TKP:ringroad barat jogja, deket pabrik ABCD) lagi enak2-nya ber motor-ria sambil pulang kerja, eh… tiba-tiba ada motor jatuh sendiri pas di depan ku (bukan jatuh dari langit lho, wah… apa ya istilahnya). Nggak tau kenapa tuh motor jatuh sendiri, dugaan-ku karena terpeleset/ selip, soalnya waktu itu memang sedang hujan dengan cukup deras. Spontan aku hentikan motorku di pinggir jalan diikuti oleh seorang Bapak yang juga trus berhenti (meskipun kemudian cepat pergi). Si pengendara yang ternyata seorang Ibu langsung aku bantu ke pinggir jalan, dan untungnya ada seorang Bapak satpam pabrik yang juga membantu meminggirkan motor tadi. Si Ibu tadi mengeluh kesakitan di bagian kakinya, setelah kulihat, waduuuhh… ternyata jari kakinya ada yang patah, dan darahnya keluar cukup banyak… Aku kemudian tanya kepada Pak satpam apakah dia punya kotak P3K, wehh… ternyata dia gak punya kotak P3K (kalo dipikir aneh juga masak pabrik besar gitu gak ada peralatan P3K sedikitpun).

Kemudian dengan masih mengenakan jas hujan aku mencari rumah dekat situ untuk mencari P3K. Setelah mencari kesana-kemari aku kembali ke si Ibu dengan hanya membawa kapas sedikit, yah.. walau cuman sedikit tapi untunglah ada sesuatu untuk membasuh lukanya, yang aku pikir cukup parah. Setelah itu aku dan Pak satpam mencoba mencari/menghentikan mobil yang lewat untuk membawa si Ibu ke rumah sakit. Dari banyak mobil yang lalu-lalang cuman satu mobil saja yang berhasil di-hentikan, setelah mengutarakan maksud dan tujuan kita, ehh… Bapak supir mobil tadi memutuskan untuk tidak bisa menolong, soalnya keburu ada rapat penting, katanya.

Yaudah deh… akhirnya si ibu tadi ku bonceng naik motorku menuju ke klinik terdekat. Untuk menghentikan darah yang keluar, kuikat kaki Ibu tadi dengan sobekan jas hujan yang kebetulan mamang sudah rusak. Huh… lega, akhirnya tak berapa lama sampai juga di klinik yang jaraknya sekitar 3 km. Setelah menelepon keluarga dan menunggu cukup lama, akhirnya keluarga Ibu tadi datang, dan setelah berpamitan pada si Ibu aku trus pulang…

Dari kejadian itu terdapat beberapa indikasi yang aneh :

  • Dari sekian banyak motor yang lewat hanya 2 orang yang mau berhenti untuk menolong, meskipun yang satu kemudian cepat pergi.
  • Dari sekian banyak mobil yang diminta berhenti untuk diminta-i tolong tidak ada satupun yang mau.
  • Tidak ada orang yang mo keluar rumah untuk membantu meskipun mereka tau disitu ada kecelakaan.
  • Ada sebuah pabrik besar yang tidak memiliki peralatan P3K sedekitpun (aneh ya?).

Huh.. memang dunia semakin aneh…

Selamat jalan Ipuss…


Sebenarya aku males banget menulis ini, tapi yang namanya perasaan, baik itu senang ataupun sedih tidak baik jika hanya di simpan dalam hati, harus diungkapkan. Kali ini giliran perasaan sedih yang sedang terus menggelayuti diriku, memang jika yang mengalami ini orang lain mungkin biasa saja, tapi tidak untuk diriku. Kalaupun aku seorang cewek pasti juga sudah menagis. Ipuss kesayangan keluarga ku tutup usia…

Aku tidak menyangka jika hal itu akan terjadi. Dua hari sebelumya memang dia sudah kelihatan tidak seperti biasa, yang biasanya ceria akhir-akhir ini menjadi pemurung dan diam saja. Benar saja ketika menginjak hari ketiga penyakit dia semakin parah, nggak mau makan minum dan akhirnya dibawa ke dokter. Setelah diobati dokter memang kelihatan agak lumayan, tapi hari berikutnya penyakitnya semakin parah saja, dan dapat ditebak, akhirnya Ipuss tidak dapat bertahan.

Selamat jalan teman… mungkin sudah dicukupkan keluarga ku untuk mengasuh dirimu….terimakasih atas segala perilakumu yang banyak menghibur walau kadang nakal… Aku tahu…bahwa kamu juga mengetahui, keluarga ku benar-benar tulus memeliharamu selama ini…